Novel ini bercerita tentang Telaga, Seorang Putri Brahmana- kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali, yang hidup di antara dua perempuan beda generasi dan kasta
Neneknya , Ida Ayu, Sagra, Pidada, adalah perempuan yang berkedudukan tinggi di griya tempat tinggal untuk keluarga bangsawan Sagra selalu menjaga wibawa sebagai putri Brahmana. Namun , ia harus menelan kekecewaan ketika anak laki - laki semata wayang nya meminang Lus Sekar. Ni Luh Sekar adalah perempuan Sudra -- kasta terendah di Bali yang di masa muda nya berambisi menikah dengan seorang lelaki Brahmana agar bisa mengangkat derajat nya , ia lelah menjadi orang miskin tidak pernah di hargai, Namun setelah di sunting oleh Ida BagusNgurahPidada hidup nya tak berubah menjadi lebih baik.
Ibu dan neneknya itu membuat Telaga jadi serba salah Sagra sering mengingatkan Talaga agar tidak mudah menerima nasihat dari Sekar, begitu pun sebalik nya. Neneknya selalu memberikan petuah- petuah kebangsawanan kepada Talaga , sementara itu ibunya menuntut Talaga untuk meneruskan mimpi mimpinya menjadi pemrempuan tercantik, penari terbaik dan menikah dengan laki-laki Brahmana . Masalah sesesungguh nya pun hadir ketika Talaga diam -diam menaruh hati pada laki-laki yang tak sesuai dengan kriteria ibunya. Memilih ibu nya ataupun laki-laki tersebut , sama saja dengan mengorbangkan separuh hidupnya.
Selama ini Bali terkenal eksotis dengan pantai dan tarian terap di tonjolkan oleh media. Namun, pernakah kita mencari tahu tentang kehidupan masyarakat disana? melalui novel ini ,Oka Rusmini perempuan yang mengaku telah lama berlumur adat istiadat Bali, itu menggambarkan cerita kehidupan disana secara gamblang dan apa adanya. Kita akan melihat pulau Dewata akan keresahan, luka dan beban hidup sekaligus pemberontakan kaum perempuan.
Novel di ceritakan melalui sudut pandang orang ketiga, dengan alur maju mundur. Cerita yang di dominasi oleh Sagra,Sekar dan Talaga. Namun melalui tiga perempuan beda generasi tersebut kita juga diperkenalkan pada kisah hidup beberapa perempuan lain nya yang membersamai perjalanan hidup mereka. Mereka perempuan yang menomorduakan dirinya demi kepentingan agama dan budaya. Tapi disisi lain mereka juga melawan aturan-aturan yang berlaku

Komentar
Posting Komentar